Kasus Dugaan Perundungan di SMA Negeri 2 Bekasi, Ibu Korban Ungkap Kronologi dan Bantah Narasi yang Beredar
Bekasi - Kasus dugaan perundungan yang terjadi di SMA Negeri 2 Kota Bekasi terus menjadi perhatian publik. Di tengah beredarnya berbagai narasi di media sosial, pihak keluarga korban akhirnya menyampaikan kronologi kejadian versi mereka.
Ibu korban AN (16) menegaskan bahwa peristiwa tersebut bermula pada Jumat, 6 Februari 2026, saat jam istirahat di kantin sekolah.
“Anak saya saat itu hanya duduk bersama teman-temannya di kantin. Tidak ada masalah sebelumnya. Tiba-tiba pelaku datang, marah-marah, dan langsung melakukan kekerasan,” ujar ibu korban.
Menurut penuturannya, pelaku berinisial EQ datang sambil membawa penutup kotak makan berbahan besi, lalu mengeluarkan kata-kata kasar sebelum melakukan kontak fisik.
“Korban diinjak, dijambak, bahkan dipukul menggunakan benda keras ke bagian kepala. Itu terjadi begitu saja tanpa alasan yang jelas,” lanjutnya.
Korban Alami Luka Fisik dan Trauma
Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka di bagian wajah dan kepala, serta rasa sakit yang membuatnya tidak dapat mengikuti kegiatan belajar.
Seorang narasumber yang mengetahui hasil pemeriksaan medis menyebutkan:
“Ada luka cakaran di pelipis, lebam di wajah, dan rambut rontok akibat jambakan. Itu sudah dikonfirmasi melalui visum,” ungkapnya.
Mediasi Sempat Ditempuh
Pihak sekolah sempat memfasilitasi mediasi antara kedua belah pihak. Bahkan, menurut ibu korban, upaya damai sempat dipertimbangkan.
“Kami sebenarnya ingin menyelesaikan secara baik-baik. Kami minta permintaan maaf secara terbuka dan biaya pengobatan diganti. Itu sempat disanggupi,” jelasnya.
Namun, upaya tersebut batal setelah muncul dugaan tindakan lanjutan di media sosial.
Diduga Ada Framing di Media Sosial
Ibu korban mengungkapkan kekecewaannya setelah melihat konten di media sosial yang dinilai tidak sesuai dengan fakta.
“Yang membuat kami terpukul, justru muncul narasi seolah-olah anak saya pelaku bullying. Padahal kenyataannya terbalik,” katanya.
Ia juga menyinggung adanya siaran langsung di TikTok yang diduga membangun opini publik.
“Dalam live itu muncul akun-akun yang mengatasnamakan anak saya dan teman-temannya. Kami menduga itu bagian dari rekayasa untuk menggiring opini,” ujarnya.
Pernyataan ini diperkuat oleh narasumber lain yang menyebut bahwa rekaman dan bukti digital telah diamankan.
“Semua bukti, termasuk screen recording dan tangkapan layar, sudah diserahkan ke pihak kepolisian,” katanya.
Narasi Meluas ke Publik
Seiring berjalannya waktu, konten tersebut disebut menyebar luas dan bahkan masuk ke pemberitaan media.
“Informasi yang beredar banyak yang tidak benar dan merugikan korban. Ini sudah menggiring opini publik,” ujar salah satu pihak keluarga.
Dampak Psikologis pada Korban
Selain luka fisik, korban juga mengalami tekanan mental yang cukup berat.
“Anak saya sampai takut sekolah, lebih sering mengurung diri, dan menangis. Ini bukan hanya soal fisik, tapi mentalnya juga terdampak,” ungkap ibu korban.
Korban bahkan sempat menjalani perawatan di rumah sakit akibat kondisi tersebut.
Harapan Keluarga
Di akhir pernyataannya, pihak keluarga berharap kasus ini dapat ditangani secara objektif.
“Kami hanya ingin kebenaran terungkap. Jangan sampai opini yang tidak sesuai fakta justru merugikan korban,” tegas ibu korban.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0